Pertambangan Emas Skala Kecil Buka Akses Pasar Formal di Sulawesi Utara

Manado – Dinamika perdagangan emas di dunia telah terjadi sejak 600 tahun sebelum masehi — emas telah menjadi nilai tukar dalam sebuah pemerintahan atau negara.

Di masa kini, permintaan pasar dunia terhadap emas sangat tinggi, tetapi keterbatasannya terletak pada ketersedian emas di dunia.

Dalam Riset PERS tentang Pasokan Emas tahun 2019 menemukan bahwa pada tahun 2005 Indonesia telah menghasilkan 140 ton emas.

Namun, produksi emas perlahan tapi pasti, menurun, dalam kurun waktu sepuluh tahun mencapai 50 ton pada tahun 2015.

Dalam riset tersebut juga ditemukan bahwa produksi emas untuk perhiasan di Indonesia pada tahun 2016 naik sampai dengan 15 persen.

Sementara itu, Riset Euromonitor pada tahun 2016 menyatakan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini, permintaan emas dalam bentuk perhiasaan naik hingga 300 persen; 61 persen permintaan datang dari negara-negara di Asia.

PERS dalam risetnya juga menemukan bahwa ada kontradiksi antara produksi bahan mentah dengan permintaan produk akhir, hal ini menjadi persoalan utama pada pertambangan emas di Indonesia.

Pertambangan emas skala kecil (PESK) tersebar di 50 Kabupaten/Kota di 23 Provinsi di Indonesia. Sektor PESK ini telah berkontribusi sebesar 20-30 persen dari produksi emas keseluruhan di Indonesia dan diperkirakan terdapat 2.500 lokasi PESK yang masih beroperasi secara aktif di Indonesia.

Namun, para pelaku yang terlibat dalam sektor PESK saat ini tidak memiliki akses terhadap teknologi, standar kesehatan dan keselamatan kerja, pengetahuan dan ketrampilan yang mumpuni dalam mengelola pertambangan emas yang ramah terhadap lingkungan serta berkelanjutan; selain itu tidak adanya akses terhadap informasi serta peluang pasar emas yang lebih luas.

Oleh karena itu, sebagai salah satu upaya untuk membuka peluang pasar emas bagi para penambang emas skala kecil, PERS yang berada dalam naungan Artisanal Gold Council (AGC) dan Yayasan Emas Artisanal Indonesia (YEAI); didanai oleh Global Affairs Canada akan menanda-tangani perjanjian Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Antam Resourcindo dengan Koperasi Batu Emas, beserta YEAI.

Nota Kesepahaman ini akan memfasilitasi lebih lanjut akses pasar formal yang lebih baik bagi masyarakat penambang skala kecil. Nota Kesepahaman ini merupakan perjanjian kemitraan bersama dengan skema penjualan yang diatur sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi setiap pihak yang terlibat; dan juga perjanjian ini merupakan batu loncatan yang penting bagi tercapainya tujuan utama dari PERS.

Penanda-tanganan Nota Kesepahaman ini akan diselenggarakan di Balai Desa Tatelu, Pukul 09.00 WITA dan akan dihadiri oleh dinas terkait seperti Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Koperasi Provinsi Sulawesi Utara.

Agni Pratama selaku Country Project Manager dari AGC menyatakan PERS menunjukan jalan yang membawa pelaku pasar lokal PESK untuk mengganti cara pengelolaan emas mereka saat ini menjadi sistem pengelolaan yang bebas merkuri serta ramah terhadap lingkungan, lebih murah dan dapat diakses masyarakat penambang skala kecil.

Program Emas Rakyat Sejahtera (PERS) berkomitmen untuk meningkatkan kondisi sosio-ekonomi dan lingkungan dari komunitas penambang emas skala kecil di Indonesia. PERS adalah program pemberdayaan Penambang Emas Skala Kecil (PESK) yang diimplementasikan oleh Yayasan Emas Artisanal Indonesia (YEAI)

Dengan dukungan Artisanal Gold Council (AGC), organisasi non profit kanada dan didanai oleh Global Affairs Canada. Saat ini YEAI bekerja di tiga wilayah yaitu Tatelu dan Tobongon (Sulawesi Utara) dan Parenggean (Kalimantan Tengah).

Dalam pelaksanaan PERS, AGC dan YEAI bekerjasama dengan mitra strategis seperti institusi pemerintah, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; dan dalam implementasinya AGC dan YEAI bekerjasama dengan mitra lokal seperti Lentera Kartini untuk area Kalimantan Tengah dan hingga tahun 2019 bersama AMAN untuk area Sulawesi Utara.(Ant)